Jakarta, CNBC Indonesia – Perbankan masih menghadapi risiko tekanan pada tahun ini, dipicu oleh potensi ketatnya likuditas hingga daya beli masyarakat yang melemah.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan hal ini. Ia menjelaskan, dari sisi likuditas yang mengetat, disebabkan pertumbuhan dana pihak ketiga yang tidak secepat pertumbuhan kredit.

Per Maret 2024, pertumbuhan kredit mampu mencapai 12,4% secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga atau DPK hanya sebesar 7,4%.

“Nah,¬†tantangannya ada di likuiditas tentu saja tantangan dalam mendorong pertumbuhan kredit. Karena tren pertumbuhan kredit di perbankan terutama bank bank besar ini cukup agresif,” kata Andry saat konferensi pers secara daring, Selasa (14/5/2024).

Adapun ancaman daya beli masyarakat yang melemah, menurutnya terlihat di segmen kelas bawah dan menengah yang konsumsinya tergerus inflasi bahan pangan bergejolak yang sudah tembus 9,63% yoy per April 2024, jauh di atas angka inflasi umum 3%.

Kondisi itu tercermin dari data Mandiri Spending Index per Mei 2024 yang menunjukkan bahwa belanja kelas bawah masih mampu bertahan di level 114,7 namun indeks tabungannya telah tergerus ke level 41,3 dari posisi Mei 2023 di kisaran 100.

Adapun kelas menengah angka indeks belanjanya anjlok ke level 122 dengan indeks tabungan sudah drop ke level 94,2 dari posisi Mei 2023 di level kisaran 100.

“Ini menjadi consern kami mengenai daya beli kelas bawah dan juga menengah bawah. Nah ini bagaimana kemudian kita perlu antisipasi supaya tidak memburuk,” tegas Andry.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Jokowi Ngamuk Tabungan Nasabah Gak Diputar, Bankir Buka Suara


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *