Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkapkan untung rugi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) bagi perusahaan.

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail tak menampik, pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi akhir-akhir ini bisa memberikan dampak positif pada penjualan batu bara perusahaan, khususnya melalui ekspor.

“Dampak pelemahan rupiah, jadi pelemahan rupiah ini satu sisi untuk ekspor (dampak) positif, nambah cash kita, karena penjualan ada dalam dolar, kalau dalam rupiah ini jadi menambah peningkatan pendapatan sisi penjualan,” ungkapnya saat konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Rabu (8/5/2024).

Namun di sisi lain, menurutnya hal ini juga bisa berdampak negatif pada biaya energi, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama ketika harga minyak dunia juga meningkat, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan Harga Pokok Penjualan (HPP) batu bara perusahaan.

“Sayangnya dengan harga minyak yang mendekati US$ 100 (per barel) diharapkan pelemahan rupiah di sisi lain harga minyak terkontrol, HPP bisa terkontrol, ditambah harga jual dalam beberapa minggu, bulan lalu nurun, sekarang dikit naik,” jelasnya.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini telah menembus Rp 16.000 per US$.

Berdasarkan data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Rabu (8/4/2024), rupiah dibuka melemah 0,28% di level Rp 16.085 per US$. Depresiasi rupiah ini terjadi bersamaan dengan kenaikan indeks dolar AS (DXY) yang menguat 0,13% ke angka 105,55.

Rupiah sempat mengalami pelemahan hingga ke level Rp 16.200 per US$ pada 30 April 2024. Hal ini bagi sebagian sektor di pasar saham berdampak negatif, namun bagi sebagian sektor justru pelemahan rupiah ini memberikan dampak positif.

Adapun, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sepakat untuk membagikan dividen dengan rasio 75% dari laba bersih tahun buku 2023 atau setara dengan Rp 4,58 triliun.

Dengan demikian investor akan mendapatkan pembagian dividen setara dengan Rp 397,51 per lembar saham.

Rapat pemegang saham juga memutuskan sebanyak 25% dari laba bersih tahun buku 2023 atau Rp 1,53 triliun sebagai saldo laba ditahan.

Sebagai informasi, PTBA membukukan laba bersih Rp 6,1 triliun sepanjang 2023, turun 51% secara tahunan (year on year/ yoy).

Dari sisi top line, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 38,48triliun Angka ini turun 9,75% ketimbang 2022 sejumlah Rp 42,64 triliun. Sedangkan beban pokok penjualan juga naik 18,83% ke Rp 29,33 triliun.

Pendapatan PTBA ditopang dari penjualan batu bara yang mencatat besaran Rp 37,97 triliun pada 2023. PTBA juga mencatatkan Rp 516,83 miliar dari pendapatan lain, yang mencakup penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit, dan jasa sewa.

Posisi nilai aset perseroan pada pertengahan tahun ini tercatat sebesar Rp 38,76 triliun. Aset ini turun dari tahun lalu yang sebesar Rp 45,35 triliun.

Sementara posisi liabilitas PTBA sebesar Rp 21,56 triliun atau turun dibandingkan posisi akhir tahun 2022 sebesar Rp 28,91 triliun. Di sisi lain, posisi ekuitas perusahaan di sepanjang 2023 tercatat Rp 38,48 triliun.

Adapun penyebab utama koreksi pada laba PTBA adalah harga batu bara yang turun signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Upaya Bukit Asam Pacu Inovasi dan Pengembangan Usaha


(wia)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *