Jakarta, CNBC Indonesia – Beberapa saham blue chip atau berkapitalisasi pasar besar (big cap) layak untuk dikoleksi pada perdagangan sesi I Selasa (16/4/2024), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok setelah libur panjang Lebaran 2024.

Dari deretan saham-saham blue chip tersebut, tentunya ada saham-saham perbankan raksasa yang juga cenderung menarik untuk dikoleksi, karena koreksinya pada sesi I hari ini cukup dalam.

Adapun saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling parah koreksinya di antara empat saham bank raksasa lainnya yakni mencapai 3,82% ke posisi Rp 9.450/unit. Namun, koreksi ini sudah cenderung terpangkas dari pembukaan perdagangan sesi I hari ini.

Berikut pergerakan empat saham perbankan raksasa pada sesi I hari ini pukul 10:07 WIB.








Emiten Kode Saham Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Central Asia BBCA 9450 -3,82%
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI 5475 -3,10%
Bank Mandiri (Persero) BMRI 6625 -2,93%
Bank Negara Indonesia (Persero) BBNI 5150 -2,83%

Sumber: RTI

Selain saham perbankan raksasa, tentunya ada beberapa saham blue chip lainnya yang cenderung menarik untuk dikoleksi pada sesi I hari ini.

Salah satunya yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), di mana saham emiten telekomunikasi BUMN ini ambles 5,83% ke posisi Rp 3.230/unit per pukul 09:51 WIB.

Berikut daftarnya per sesi I pukul 09:51 WIB.









Emiten Kode Saham Harga Saham Terakhir Perubahan
Sumber Alfaria Trijaya AMRT 2700 -6,25%
Telkom Indonesia (Persero) TLKM 3230 -5,83%
Bank Syariah Indonesia BRIS 2580 -4,07%
Bank Tabungan Negara (Persero) BBTN 1445 -3,67%
Indofood CBP Sukses Makmur ICBP 10500 -3,23%

Sumber: RTI

Sebelumnya, IHSG dibuka ambruk 2,15% ke posisi 7.130,27. Selang 42 menit, koreksi IHSG terpangkas menjadi 1,77% ke posisi 7.157,67

IHSG ambruk karena libur panjang dalam rangka Hari Raya Lebaran 2024 atau Idul Fitri 1445 H, sehingga ada lagging sentimen.Selain itu, adanya aksi profit taking investor juga memperberat IHSG hari ini.

Tak hanya itu saja, banyaknya sentimen negatif dari global saat Indonesia sedang libur panjang Lebaran juga menekan IHSG, mulai dari memanasnya situasi di Timur Tengah, hingga inflasi Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas.

Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel pada Sabtu malam (13/4/2024).Seperti diketahui, serangan drone pada Sabtuyang merupakan serangan langsung pertamanya terhadap wilayah Tel Aviv. Ini berisiko meningkatkan eskalasi regional karena Amerika Serikat (AS) berjanji memberikan dukungan “kuat” kepada Israel.

Serangan Iran ini adalah balasan setelah Israel menyerang konsulat Iran di Damaskus Suriah, awal April. Sebanyak 11 orang tewas termasuk tiga jenderal Garda Revolusi Iran (IRGC) di antaranya Mohammed Reza Zahedi dan Mohammad Hadi Haji Rahimi.

Serangan drone ini menjadi kekhawatiran besar pasar keuangan global. Pasar keuangan Indonesia yang baru buka pada hari ini pun dipastikan akan memperhitungkan dampak dari serangan drone Iran ke Israel.

Pasalnya, konflik bisa meluas jika Israel dan sekutunya menyerang balik.Serangan tersebut juga membuat kawasan Timur Tengah semakin panas setelah perang Israel vs Hamas meletus pada awal Oktober 2023.

Dampak serangan ini akan berimbas pada sejumlah hal seperti penerbangan, harga komoditas, hingga inflasi global.

Sebelum berdampak lebih besar ke inflasi global, inflasi AS pada Maret 2024 telah dirilis dan hasilnya kembali memanas.

Inflasi AS di luar dugaan menanjak hingga 3,5% (year on year/yoy) pada Maret 2024 dari 3,2% pada Februari.Sejumlah data AS juga menunjukkan ekonomi AS masih panas.
Data tenaga kerja AS juga menunjukkan adanya penambahan 303.000 pada non-farm payrolls, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar di angka 200.000.

Terbaru,data penjualan ritel AS untuk bulan Maret melampaui ekspektasi para analis, yang merupakan bukti terbaru mengenai ketahanan konsumen Amerika.

Departemen Perdagangan melaporkan pada hari Senin (15/4/2024), penjualan ritel meningkat 0,7% pada periode Maret 2024, jauh lebih cepat dari perkiraan konsensus Dow Jones yang memperkirakan kenaikan 0,3%.

Masih panasnya ekonomi AS dan inflasi mereka membuat pasar pesimis jika The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Perangkat CME Fedwatch Tool menunjukkan pelaku pasar kini hanya bertaruh 21,7% jika The Fed akan memangkas suku bunga di Juni. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pada dua pekan lalu yang mencapai 60-70%.

Jika eskalasi terus berkepanjangan, maka inflasi global termasuk di AS pun akan kembali sulit turun. Alhasil, ekspektasi pasar akan pemangkasan suku bunga acuan akan kembali memudar dan bahkan mungkin saja pemangkasan suku bunga kembali tidak terjadi pada tahun ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Saham Bank Jumbo Kompak Cetak Rekor, Ada BMRI dan BBNI


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *