Jakarta, CNBC Indonesia – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi secara terus menerus akan membuat barang-barang impor semakin mahal ke depan, meski ada lag atau waktu jeda efeknya karena adanya kontrak perdagangan.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan, hal itu. Menurutnya, efek pelemahan terhadap harga barang impor akan terasa bila pelemahan terjadi dalam jangka waktu bulanan.

Kondisi itu biasa dikenal dengan istilah imported inflation. Berdasarkan definisi dari Bank Indonesia imported inflation adalah inflasi atau kenaikan harga akibat naiknya harga barang impor dan depresiasi mata uang.

Depresiasi mata uang dan naiknya harga barang impor itu membuat para importir arus mengeluarkan biaya atau ongkos lebih banyak saat mengimpor suatu produk. Termasuk produk-produk bahan baku/penolong di industri dalam negeri.

“Imported inflation kemungkinan akan terjadi, tapi mungkin akan ada time lag, yang itu bermacam-macam, bisa jadi dalam satu bulan, ada yang bisa satu kuartal, jadi bergantung kepada terkait dengan kesepakatan perdagangan sebelumnya,” ucap Andry kepada CNBC Indonesia, Rabu (3/4/2024).

Efek terburuk dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi tambahan beban biaya produksi industri manufaktur atau pengolahan menurut Andry ialah menjadi semakin mahalnya harga jual barang-barang di dalam negeri, akibat tingginya biaya produksi barang.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024 impor bahan baku/penolong mendominasi nilai impor di Indonesia. Porsinya mencapai 72,47% dari total keseluruhan impor yang sebesar US$ 13,30 miliar. Dalam bentuk nilai mencapai US$ 26,76 miliar.

“Artinya untuk daya beli itu nanti pasti akan terganggu manakala produk yang tadi saya sebutkan bahan bakunya berasal dari impor atau mungkin terkait ekspansi barang modalnya yang memang mayoritas impor itu akan jadi mahal,” tegas Andry.

Senada dengan Andry, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menyatakan hal serupa. Menurutnya, tekanan harga akibat depresiasi mata uang memang akan terjadi bila efeknya berlangsung lama.

“Kalau terkait pelemahan rupiah ini akan tergantung dari seberapa lama pelemahan ini akan berlangsung, kalau berkelanjutan tentunya akan membuat import cost menjadi lebih mahal dan mempengaruhi cost of production dalam negeri serta harga domestik,” ungkap Riefky saat dihubungi terpisah.

Ia menilai kenaikan harga dari barang-barang impor itu berpotensi kuat terjadi bilamana pelemahan nilai tukar rupiah terjadi dalam jangka waktu panjang, seperti dalam hitungan bulan. Atau persentase depresiasinya sangat besar hingga ratusan persen seperti saat krisis 1998.

“Walaupun tidak ada pengukuran atau pola yang pasti. Kalau 1998 walaupun tidak sampai setahun tapi depresiasi terjadi hingga ratusan persen ya tentu dampaknya akan signifikan,” ucap Riefky.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini melemah, meski indeks dolar cenderung melandai. Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09:00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,41% ke posisi Rp 15.910/US$ dari penutupan perdagangan kemarin RP 15.895/US$.

Sementara itu, indeks dolar DXY ditutup di posisi 104,816, lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya di posisi 105,019. Pada pagi hari ini, indeks dolar terpantau turun tipis 0,05% ke 104,76. Indeks dolar yang sempat menyentuh level 105 merupakan titik tertinggi sejak 8 November 2023.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia, rupiah telah dua hari ini bergerak di kisaran atas Rp 15.900 per dolar AS. Pada 2 April 2024, rupiah diperdagangkan antar bank rata-rata di level Rp 15.934 dan pada 1 April 2024 sebesar Rp 15.909.

Pada akhir Maret 2024, masih di kisaran Rp 15.873 per dolar AS, naik pesat dari level saat 1 Maret 2024 sebesar Rp 15.696. Bahkan pada awal Januari 2024 rupiah masih bertengger di level Rp 15.473 meskipun saat 1 Februari 2024 telah di level Rp 15.775.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Defisit Transaksi Berjalan Turun, Jadi US$900 Juta di Q3


(arm/mij)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *