Jakarta, CNBC Indonesia – Investor asing tercatat masih membukukan outflow atau net sell, membuat pasar keuangan RI utamanya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah merana dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data pasar hingga Selasa (3/4/2024) kemarin, asing di pasar saham tercatat melakukan net sell sebesar Rp 1,77 triliun, dengan rincian sebesar Rp 1,17 triliun di pasar reguler dan sebesar Rp 603,98 miliar di pasar tunai dan negosiasi.

Sedangkan selama sepekan terakhir hingga kemarin, asing di pasar saham mencatatkan net sell sebesar Rp 4,96 triliun, dengan rincian sebesar Rp 4,97 triliun di pasar reguler dan net buy sebesar Rp 8,77 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

Adapun sepanjang tahun ini hingga kemarin, asing di pasar saham masih mencatatkan net buy sebesar Rp 22,99 triliun, dengan rincian sebesar Rp 10,74 triliun di pasar reguler dan sebesar Rp 12,25 triliun di pasar negosiasi dan tunai.

Sementara menurut data dari Bank Indonesia (BI), pada periode perdagangan 25 – 27 Maret 2024, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp 1,36 triliun terdiri dari beli neto Rp 0,97 triliun di pasar SBN, jual neto Rp 1,59 triliun di pasar saham, dan jual neto Rp 0,74 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen sampai dengan 27 Maret 2024, nonresiden jual neto Rp 33,31 triliun di pasar SBN, beli neto Rp 28,90 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp 20,05 triliun di SRBI.

Dalam beberapa hari terakhir, pasar keuangan RI terutama IHSG dan rupiah cenderung membentuk tren bearish. Meski kemarin IHSG berhasil menguat, tetapi pada sesi I hari ini IHSG kembali melemah, karena masih belum adanya sentimen positif yang kuat di global dan dalam negeri.

Selain itu, depresiasi rupiah yang masih terjadi juga menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) karena masa repatriasi dividen dari dalam negeri.

Selain itu, sidang sengketa Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 yang masih berlangsung hingga hari ini membuat ketidakpastian di dalam negeri kembali meningkat, meski dampaknya masih cenderung tidak terlalu besar.

Agenda sidang kemarin adalah pembuktian pemohon dengan mendengarkan keterangan ahli dan saksi pemohon dan pengesahan alat bukti tambahan pemohon.

Pasangan calon Ganjar Pranowo-MahfudMD telah menyampaikan pokok permohonan dalam sidang perdana pekan lalu. Deputi Tim Hukum Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud yang diwakili oleh Todung M. Lubis dan Annisa Ismail menyampaikan dalil-dalil pokok permohonan dari perkara itu secara bergantian.

Menurut Pemohon telah terjadi kekosongan hukum dalam UU Pemilu untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan akibat dari nepotisme yang melahirkanabuse of poweryang terkoordinasi. Pelanggaran ini menjadi pelanggaran utama yang terjadi dalam Pilpres 2024.

Berikutnya, Pemohon juga menilai instrumen penegak hukum pemilu yang saat ini tidak efektif yang tampak pada tidak adanya independensi dari Termohon dalam melakukan Pilpres 2024, DKPP melindungi Termohon dengan cara tidak mengindahkan putusannya sendiri, dan Bawaslu tidak efektif dalam menyelesaikan pelanggaran yang dilaporkan.

Pada hari ini, empat menteri bakal hadir dalam sidang sengketa Pemilu 2024 di MK. Adapun empat menteri yang dipanggil MK adalah Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan; Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Sri Mulyani Indrawati: Menteri Keuangan dan Tri Rismaharini, Menteri Sosial.

Sidang MK seperti ini dapat memberikan tekanan bagi rupiah karena terdapat ketidakpastian politik yang berujung pada keraguan investor dalam berinvestasi di Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Dana Asing Mulai Banjiri RI, Pengamat: Awas Hot Money


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *