Jakarta, CNBC Indonesia – Tren pelemahan nilai tukar rupiah masih berlangsung hingga saat ini. Bank Indonesia (BI) diharapkan mampu melakukan beberapa hal agar. stabilitas rupiah tetap terjaga.

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09:00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,41% ke posisi Rp 15.910/US$. Kemarin dolar AS sampai menyentuh level Rp 15.960.

Ekonom senior yang juga merupakan Menteri Keuangan periode 2014-2016 Bambang Brodjonegoro meminta otoritas moneter dan pemerintah untuk waspada dan merespon cepat pelemahan nilai tukar ini.

Ia menganggap permasalahan nilai tukar menjadi signifikan karena mayoritas industri di dalam negeri masih banyak mengimpor bahan baku atau barang modal yang transaksinya menggunakan dolar AS.

“Karena baik penguatan dolar terhadap rupiah kemudian juga permintaan input dari Indonesia yang masih tinggi apalagi jangan lupa sektor manufaktur kita sangat tergantung pada input yang sifatnya impor jadi kita malah sangat butuh impor,” tutur Bambang kepada CNBC Indonesia.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menambahkan langkah yang perlu ditempuh BI adalah mengoptimalkan penguatan strategi operasi moneter yang pro-market untuk efektivitas kebijakan moneter, termasuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Di antaranya dengan optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).

“Dengan berbagai langkah stabilisasi tersebut, dalam jangka pendek ini Rupiah diperkirakan akan cenderung stabil di kisaran Rp 15.900-an,” kata Josua kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (3/4/2024).

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Breaking! Dolar Ngamuk, Rupiah Tembus Rp15.820/US$


(arm/mij)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *