Jakarta, CNBC Indonesia – Direktur Finance PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini buka-bukaan terkait penerbitan surat utang senior dalam denominasi Dolar Amerika Serikat senilai US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,94 triliun (kurs Rp15.892,85).

Menurutnya penerbitan itu menjadi salah satu bagian dari strategi BNI dalam pemberian kredit rupiah dan valas serta mencari sumber pendanaan di luar Dana Pihak Ketiga (DPK). Dengan begitu, upaya BNI mendorong bisnis di 2024 akan semakin kuat.

“Jadi likuiditas ini digunakan untuk support rencana bisnis BNI, di mana kita lihat pertumbuhan bisnis 2024 kita inline dengan industri, kita akan tumbuh 9-11%,” kata Novita dalam Power Lunch CNBC Indonesia, Selasa (2/4/2024).

Ia menuturkan, saat ini pemberian kredit dalam bentuk valas sendiri tidak besar. Namun sangat menjanjikan untuk mendorong profitabilitas perusahaan, tentunya dengan imbal hasil yang optimal.

Selain itu, kondisi likuiditas BNI pun sejauh ini masih sangat kuat dan tidak hanya bergantung pada penerbitan surat utang. Ia mencatat, perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) di atas Rp 700 triliun dengan komposisi casa 70%.

“Ke depan kita lihat bahwa strategi BNI untuk fokus kepada transaksional terutama dengan platform atau kanal unggulan kita mulai dari mobile banking, cash management system ataupun chanel wilayah. Ini kita perkuat. Ke depan ini menjadi strategi BNI untuk memperkuat sisi likuditas,” pungkasnya.

Sekadar informasi, terkait penerbitan ini BNI telah berhasil menyelesaikan roadshow pada 26 Maret 2024 dan pricing pada 27 Maret 2024. Adapun bunga obligasi yang ditetapkan sebesar 5,28% per tahun.

Menariknya, rencana penerbitan ini telah mendapat respon positif dari investor global. Hal ini ditandai dengan adanya kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 6,4 kali dari rencana nilai yang diterbitkan saat Initial Pricing Guidance (IPG).

Adapun surat utang ini merupakan bagian dari program Euro Medium Term Note yang dibentuk pada 2020 silam. Berdasarkan program EMTN ini BNI dapat menerbitkan surat utang secara bertahap dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya US$ 2 miliar.

Penerbitan obligasi ini akan dicatatkan di Singapore Exchange Securities Trading dengan Citigroup dan J.P Morgan sebagai arranger dan penjual. Perseroan berencana menyelesaikan surat utang ini 5 hari kerja setelah pricing, yakni pada 5 April 2024.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


BNI Berencana Rilis Global Bond Senilai US$ 500 Juta, Ini Detilnya


(dpu/dpu)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *