Jakarta. CNBC Indonesia – Tren pergerakan rupiah masih melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Risiko repatriasi dividen, persiapan lebaran, sengketa sidang pilpres di MK masih berlanjut, hingga ketidakpastian eksternal masih terus membayangi mata uang Garuda.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan kemarin, Senin (1/4/2024) di posisi Rp 15.885/US$, melemah 0,22% dihadapan dolar AS. Ini menandakan bahwa rupiah semakin mendekati level psikologis Rp15.900/US$.


Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susianto mengungkapkan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh repatriasi dividen dari dalam negeri yang mendorong permintaan dolar AS, serta arus keluar.

BI juga mengaku rilis data inflasi Maret 2024 yang berada di atas ekspektasi pasar, ikut memberikan dampak. Kendati demikian, Edi memastikan BI tetap berada di pasar.

“BI terus masuk pasar, untuk menjaga agar terdapat keseimbangan supply demand valas di market,” tegasnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (2/4/2024).

Sementara itu, ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai pergerakan rupiah tersebut dipicu oleh permintaan tinggi dolar AS di dalam negeri.

Mulai dari untuk kebutuhan impor BBM jelang Lebaran atau Idul Fitri 2024 hingga musim pembagian dividen.

“Yang membuat Rupiah melemah karena permintaan dolar tinggi untuk impor BBM, maupun hot money outflow, serta permintaan dolar domestik meningkat saat ada musim pembagian dividen,” kata Myrdal kepada CNBC Indonesia, Senin (1/4/2024).

Sebagai informasi, di momen lebaran pada April 2024 ini, masyarakat cenderung kembali ke kampung halaman atau pun berwisata yang tentu akan memerlukan BBM dalam mobilitas. Maka dari itu, permintaan akan BBM akan naik atau dengan kata lain impor minyak akan melonjak.

Lebih lanjut, dana asing juga keluar dari pasar keuangan domestik khususnya Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Data transaksi 25-27 Maret 2024, investor asing tercatat jual neto Rp1,36 triliun dan jual neto Rp0,74 triliun di SRBI. Sementara pada pekan ketiga Maret 2024,

investor asing juga tercatat jual neto sebesar Rp6,68 triliun dengan jual neto Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8,2 triliun.

Menurut Rully Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, faktor pendorong pelemahan rupiah utamanya yakni dari eksternal khususnya datang dari AS. Ketua bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell memberi sinyal tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga.

Oleh karena itu, higher for longer masih akan berlangsung untuk beberapa waktu ke depan.

Kuatnya data ekonomi AS masih cukup kuat belakangan ini. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang tidak termasuk makanan dan energi pada Februari 2024 tercatat 2,8% secara tahunan dan naik 0,3% dari bulan lalu. Kedua angka tersebut sesuai dengan perkiraan Dow Jones.

Termasuk biaya pangan dan energi yang berfluktuasi, angka utama PCE menunjukkan kenaikan sebesar 0,3% pada bulan ini dan 2,5% pada tingkat 12 bulan, dibandingkan perkiraan sebesar 0,4% dan 2,5%.

Dilansir dari Reuters, data inflasi terbaru AS diungkapkan oleh ketua bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell bahwa sudah sesuai dengan apa yang ia lihat.

Komentar Powell sejalan dengan pernyataannya setelah pertemuan kebijakan The Fed sebelumnya, di mana ia mengatakan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada Januari dan Februari tidak mengubah perasaan bahwa kenaikan harga akan terus turun tahun ini hingga mencapai target 2% bank sentral.

Teknikal Rupiah

Pergerakan rupiah dalam melawan dolar AS masih dalam tren pelemahannya. Terkini dalam basis waktu per jam, sedang menguji garis rata-rata selama 20 jam atau Moving Average/MA 20.

Jika posisi MA20 bisa ditembus ke bawah, maka potensi pembalikan arah menguat bisa ke support di MA50 atau Rp15.850/US$. Namun, jika tren masih lanjut melemah, maka potensi pelemahan selanjutnya atau resistance bisa menguji high candle yang pernah disentuh kemarin di posisi Rp15.910/US$.




Rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Inflasi RI Melandai ke 2,61%, Bagaimana Efeknya ke Rupiah?


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *