Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Seabank Indonesia tercatat sebagai bank digital dengan aset paling jumbo di Indonesia, jauh meninggalkan yang lain. Bank yang dikendalikan oleh induk Shopee, Sea Limited melalui PT Danadipa Artha Indonesia ini melaporkan aset senilai Rp 33,27 triliun per Februari 2024.

Pada periode yang sama, posisi kedua diisi oleh PT Bank Jago Tbk. (ARTO) dengan aset Rp 21,48 triliun. Lalu PT Bank Neo Commerce Tbk. mengekor bermodal aset Rp 18,34 triliun.

Posisi empat, lima, dan enam diisi oleh PT Bank Digital BCA, PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO), dan PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI). Secara berurutan aset tiga bank ini sebesar Rp 13,56 triliun, Rp 12,38 triliun, dan Rp 12,36 triliun.

Adapun aset Seabank melonjak seiring dengan strategi perusahaan untuk menyalurkan kredit secara jor-joran melalui ekosistem perusahaan afiliasi, Shopee. Mengutip Laporan Tahunan Seabank 2022, perusahaan melakukan kerja sama dengan Shopee (PT Shopee International Indonesia) dan SPaylater (PT Commerce Finance) sejak 2021.

Bila dibandingkan dengan Februari 2021, pada tahun ini penyaluran kredit Seabank meroket nyaris 10 kali lipat atau dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 18,15 triliun.

Mengutip Laporan Tahunan Seabank 2022, hampir seluruh portofolio kredit Seabank merupakan sumbangsih dari kredit digital melalui pola joint financing dan channeling. Pada tahun itu bank melaporkan kredit konvensional hanya Rp 324 miliar dari total Rp 15,89 triliun kredit yang disalurkan.

Seiring dengan penyaluran kredit yang agresif, pendapatan Seabank per Februari 2024 pun melompat menjadi Rp507 miliar. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan bank digital lain.

Akan tetapi hal itu tidak serta merta menjadikan Seabank sebagai bank digital dengan profitabilitas tertinggi. Sejak tahun lalu, Allo Bank mencetak perolehan laba bersih paling tinggi dibandingkan peers.

Padahal, portofolio kredit Allo Bank hanya separuh dari yang dimiliki oleh Seabank. Model bisnis yang digeluti Seabank menjadi faktor yang menyebabkan pundi-pundi pendapatan tergerus beban operasional.

Sebagai perbandingan, Allo Bank per Februari 2024 mengantongi laba bersih Rp 75,43 miliar, sedangkan Seabank tidak sampai separuhnya atau Rp 34,07 miliar.
Cerminan kinerja itu sejalan dengan tingkat risiko kredit Seabank yang jauh lebih tinggi, seiring dengan model bisnis yang mengandalkan ekosistem Shopee. Mengutip POJK

Nomor 18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, salah satu risiko kredit adalah risiko konsentrasi kredit. Hal itu merupakan risiko yang timbul akibat terkonsentrasinya penyediaan dana kepada satu pihak atau sekelompok pihak, industri, sektor, dan atau geografis tertentu yang berpotensi menimbulkan kerugian cukup besar yang dapat mengancam kelangsungan usaha bank.

Per Februari 2024, beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) Seabank mencapai Rp 876,02 miliar. Pada periode yang sama, Allo Bank yang sebagian besar kreditnya disalurkan ke korporasi, hanya mencetak beban impairment Rp 2,5 miliar.

Beban impairment akan bergerak menyesuaikan dengan kualitas kredit yang disalurkan. Apabila beban impairment terus naik, kualitas kredit yang disalurkan kemungkinan memilki risiko kualitas rendah. Oleh karena itu bank harus menyisihkan pencadangan lebih tinggi.

Per 31 Desember 2023, Seabank juga tercatat sebagai bank digital dengan rasio cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset produktif paling tinggi, yakni 9,05%. Angka ini naik 328 basis poin (bps) secara tahunan.

Bandingkan dengan bank digital lain yang memiliki penyaluran kredit lebih terdiversikasi, misal Bank Jago yang memiliki rasio CKPN 2,51%. Kemudian Allo Bank yang memiliki rasio CKPN 0,51%.

Bank digital yang memiliki rasio CKPN kedua tertinggi setelah Seabank adalah Bank Neo Commerce, tetapi itu pun angkanya masih terpaut jauh. Bank yang juga menyalurkan kredit melalui ekosistem pemegang saham pengendali ini melaporkan rasio CKPN per Desember 2023 sebesar 4,03%.

Dampak negatif dari model bisnis Seabank pun terlihat pada laporan keuangan 2023. Meski pendapatan bunga bersih perusahaan melesat 53% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 5,73 triliun, tetapi laba bersih malah merosot 10% yoy menjadi Rp 241 miliar. Pasalnya beban impairment bank meroket 61% yoy menjadi Rp 4,45 triliun.

Risiko kemudian muncul karena pertumbuhan penyaluran kredit Seabank mulai melambat. Sepanjang 2023, kredit Seabank tumbuh 12,56% yoy, sedangkan tahun sebelumnya naik 160% yoy dan pada 2021 melesat 218% yoy. Padahal Seabank perlu menggenjot penyaluran kredit guna mendulang pendapatan bunga, sehingga dapat mengimbangi beban impairment.

Sementara itu, ekosistem e-commerce dan fintech lending sepertinya saat ini tidak dapat terlalu diandalkan. Tren order e-commerce melambat dengan gross order sepanjang 2023 tumbuh 8,8% yoy, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2022 sebesar 23,7% yoy dan tahun 2021 sebesar 90,1% yoy.

Lalu, bisnis fintech lending menghadapi tantangan berat dari sisi regulasi, termasuk isu perlindungan konsumen. OJK telah menerbitkan POJK 77 Tahun 2022 dan Surat Edaran No. 19/SEOJK.06/2023 yang mengatur pembatasan jumlah pinjaman, bunga atau margin hasil, dan mekanisme penagihan bagi fintech lending.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Mau Luncurkan Bank Digital, Krom Bank (BBSI) Angkat Presdir Baru


(mkh/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *