Jakarta, CNBC IndonesiaEmiten telekomunikasi PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mencatatkan rugi bersih sepanjang 2023, dari sebelumnya pada 2022 yang mencetak laba bersih.

Rugi bersih FREN sepanjang 2023 mencapai Rp 108,92 miliar, berbalik posisi dari sebelumnya tahun 2022 yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,06 triliun.

Meski di 2023 mencatatkan rugi bersih, tetapi FREN masih membukukan kenaikan pendapatan yakni mencapai Rp 11,65 triliun, naik tipis 4% dari posisi periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 11,2 triliun.

Naiknya pendapatan usaha disumbang oleh kenaikan jasa telekomunikasi, baik dari penjualan paket data, penjualan non paket data, jasa interkoneksi, dan lain-lain yang jika ditotal mencapai Rp 11,65 triliun per 31 Desember 2023, naik dari sebelumnya sebesar Rp 11,2 triliun per 31 Desember 2022.

Perseroan mencatatkan rugi bersih karena beban usaha perseroan yang naik 5% menjadi Rp 11,11 triliun per 31 Desember 2023, dari sebelumnya sebesar Rp 10,57 triliun per 31 Desember 2022.

Kenaikan beban usaha perseroan terjadi karena naiknya beban penyusutan dan amortisasi menjadi Rp 4,6 triliun pada akhir Desember 2023, dari sebelumnya per akhir Desember 2022 sebesar Rp 4,4 triliun.

Tak hanya itu saja, beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi juga membengkak menjadi Rp 3,92 triliun per akhir 2023, dari sebelumnya sebesar Rp 3,72 triliun per akhir 2022.

Dari sisi top line, total aset FREN per akhir Desember 2023 mencapai Rp 45,04 triliun, turun dari posisi yang sama tahun 2022 sebesar Rp 46,49 triliun.

Sedangkan total ekuitas perseroan mencapai Rp 15,67 triliun pada akhir 2023, turun dari akhir 2022 senilai Rp 15,75 triliun. Sementara jumlah liabilitas FREN per akhir 2023 mencapai Rp 29,37 triliun, melandai dari sebelumnya sebesar Rp 30,73 triliun per akhir 2022.

Meski begitu, pihak FREN berharap penggabungan usaha atau merger antara FREN dengan PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dapat segera terjadi.

Namun demikian, ia mengatakan hingga saat ini manajemen belum mengetahui sejauh apa proses diskusi yang tengah berlangsung terkait dengan merger tersebut.

“Masih [dibahas] di tingkat pemegang saham. Kalau merger kan bukan kita manajemen [yang memutuskan], orang yang punya brand sama yang punya Axiata,” kata Presiden Direktur FREN, Merza Fachys saat ditemui usai Tech & Telco Summit 2024 yang digelar CNBC Indonesia, dikutip Kamis (7/3/2024).

“Kami berharap mudah-mudahan terjadi, mudah-mudahan positif,” imbuhnya.

Merza menjelaskan apa keuntungan yang akan didapat jika Smartfren dan Xl Axiata benar akan merger. Pertama dari segi resources atau sumber daya, baik dari segi perangkat, sumber daya manusia, modal dan lain sebagainya.

Demikian juga jika XL dan Smartfren merger, pasti akan ada aset-aset jaringan yang bisa dimanfaatkan bersama.

Ia lalu kembali memberi contoh merger yang terjadi antara Indosat dan Tri. Menurut dia, ketika baca laporan keuangan operasional mereka ada angka yang termasuk dalam efisiensi.

“Misalnya Indosat keluar duit 100, Tri keluar duit 50, bukan jadi 150 tapi tetap 100, itu efisiensi, orang demikian juga, spektrum jadi lebih lebar ketika bersatu,” kata Merza.

Ketika kapan ditanya merger ini akan rampung, ia mengaku tak tahu dan tak bisa memberikan jawaban pasti kapan waktunya.

“Loh ya saya nggak bisa ngomong waktu karena saya enggak ikut peristiwa itu. Tapi kalau boleh berharap ya secepat-cepatnya, ya itulah harapan lah, boleh dong berharap,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


CHIP Kantongi Kontrak dari Smartfren, Omzet Bisa Naik 5%


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *